Persaingan Industri Sawit Semakin Tidak Sehat

Jakarta – Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) Christianto Wibisono mengingatkan bahwa peta persaingan pada industri minyak nabati dunia semakin tidak sehat. Di Indonesia, kelapa sawit yang merupakan komoditas unggulan minyak nabati dunia justru semakin terpojokkan dengan adanya isu lingkungan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dihembuskan pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan popularitas politik maupun mengatasnamakan kepentingan rakyat. Christianto menyatakan, persaingan tersebut diciptakan dengan memanfaatkan kelompok tertentu untuk berbicara dan bertindak dengan mengatasnamakan rakyat dan merasa paling benar. Hanya saja, rakyat mana yang mereka bela, hal itu tidak jelas. “Apakah rakyat Indonesia atau masyarakat Eropa sana yang tidak mampu bersaing dengan Indonesia dalam memenangi peta persaingan minyak nabati dunia. Mereka bertindak seperti pro-rakyat, padahal agenda lain di dalamnya untuk menghambat pembangunan di Indonesia. Ini memang dinamika yang tidak bisa dihindari. Selalu ada orang-orang oportunis seperti ini,” kata dia di Jakarta, Rabu (7/9). Dia sangat menyayangkan hal tersebut yang justru terjadi di tengah perjuangan Indonesia untuk menjadi produsen minyak nabati dunia ini. Kelompok itu justru menunggangi isu-su yang bergulir seperti lingkungan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah-olah industri sawit di Indonesia merupakan pelaku kriminal yang harus diburu. Untuk itu, idealnya semua pihak seperti para pakar, akademisi, wartawan, kepolisian dan para pemangku kepentingan lain, tidak tinggal diam dan melakukan perlawanan melalui tindakan yang benar. “Seharusnya, semua pihak menyadari bahwa keberadaan Indonesia menjadi produsen sawit nomor satu dunia merupakan langkah awal untuk menjadikan masyarakat sejahtera. Karena itu, perlu lebih banyak dukungan banyak pihak untuk berjuang bersama demi kesejahteraan Indonesia,” jelas dia. Christianto juga mengingatkan, Indonesia telah menjadi bagian penting dalam kancah persaingan global. Disadari atau tidak, banyak kepentingan asing terutama dengan memanfaatkan lembaga swadaya atau NGO untuk meredam potensi-potensi sumber daya alam Indonesia. Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam berbagai kesempatan juga mengatakan, penghentian sejumlah kasus karhutla di sejumlah daerah, seperti Riau, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat disebabkan tidak ada unsur kelalaian yang dilakukan korporasi. “Korporasi telah memenuhi standar keamanan yang sesuai. Karhutla justru berasal dari luar area peta kerja korporasi yang dilakukan oknum masyarakat dan merembet ke area peta kerja korporasi. “Tidak fair kalau kita melakukan pidana kepada perusahaan padahal pembakaran dilakukan oleh orang luar yang tidak dikenal. Di Riau bahkan kebakaran yang terjadi di luar area konsesi, malah masuk dan membakar kebun sawit yang masih produktif ,” kata Tito. Tri Listiyarini/TL Investor Daily

Sumber: BeritaSatu