Menperin Ajak Industri Manfaatkan Inovasi Lima Balai Besar

Suara.com – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengajak pelaku industri berbasis teknologi untuk memanfaatkan hasil penelitian, pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) dari lima Balai Besar yang dimiliki oleh Kementerian Perindustrian di Bandung. Kelima Balai Besar tesebut adalah; Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Besar Logam dan Mesin, Balai Besar Pulp dan Kertas, Balai Besar Keramik, dan Balai Besar Tekstil. Menperin menyampaikan rasa bangga atas hasil inovasi anak bangsa ini saat memperhatikan beberapa hasil penelitian yang disampaikan oleh kepala B4T. “Hasil litbangyasa unggulan B4T Bandung antara lain komposit untuk komponen kereta api seperti plat penyambung antar rel dan blok rem, produk pembangkit energi seperti panel surya dan baterai listrik, produk konverter kit, baterai lithium untuk perangkat elektronik serta prototipe power bank ,” ujarnya ketika mengunjungi B4T Bandung, Sabtu petang (20/8/2016). Pada kesempatan itu, Menperin didampingi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Haris Munandar. Selain itu, Menperin juga menilik hasil litbang unggulan dari balai penelitian Kemenperin lainnya di Bandung, seperti pemanfaatan lumpur pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di industri pulp dan kertas untuk chipboard yang merupakan hasil penelitian Balai Besar Pulp dan Kertas serta penyiapan serbuk gamma alumina sebagai adsorben logam berat untuk industri air minum oleh Balai Besar Keramik. Inilah Prestasi dan Peringkat Indonesia di 5 Olimpiade Terakhir Airlangga percaya, dengan mengoptimalkan pemanfaatan hasil litbang tersebut dapat menumbuhkan industri baru, meningkatkan kompetensi dan kualifikasi tenaga industri, serta mutu produk industri yang terjamin kualitasnya. Pada akhirnya, daya saing industri dalam negeri makin meningkat baik di pasar domestik maupun global. “Di tengah gempuran produk asing, produk lokal harus bisa berdaya saing dengan meningkatkan kualitasnya. Sehingga tidak saja bisa bertarung di pasar global, tetapi produk lokal ini bisa memenuhi kebutuhan dan standar yang seharusnya bisa dihasilkan tanpa harus impor,” paparnya. Airlangga juga mengungkapkan, Indonesia merupakan pasar terbesar di ASEAN untuk produk telepon seluler. Ini menjadikan peluang potensial bagi pelaku industri dalam negeri untuk memproduksi komponen telepon seluler. “Peluang pasar tersebut seiring dengan jumlah kelas menengah di Indonesia sebesar 50 juta orang. Jadi, kita jangan hanya produksi kardus dan kabel charger saja,” tegasnya. Pada kesempatan yang sama, Haris menyampaikan, aktivitas litbangyasa B4T Bandung memfokuskan pengembangan daya saing beberapa produk industri prioritas, diantaranya Industri Logam Dasar dan Bahan Galian Bukan Logam; Industri Barang Modal, Komponen, Bahan Penolong dan Jasa Industri; Industri Alat Transportasi; serta Industri Pembangkit Energi. “Sesuai imbauan Menperin, agar para pelaku industri kecil dan menengah ikut juga memanfaatkan hasil inovasi dari B4T Bandung,” tuturnya. Menurut Haris, pihaknya akan memetakan sektor industri yang rantai nilainya masih ada yang kosong serta pasokan dan permintaannya belum seimbang. “Karena balai-balai Kemenperin akan berperan mencari solusinya. Langkah ini juga akan dikoordinasikan dengan kementerian dan lembaga terkait,” paparnya. Misalnya, Kemenperin akan berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian terkait pengembangan prototipe mesin yang dapat membantu petani jagung saat panen. “Di samping itu, kami juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perkerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terkait penemuan untuk aspal jalan dengan campuran karet,” ungkapnya. Di sisi lain, Menperin mengharapkan kepada B4T Bandung agar dapat melakukan kerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam upaya pemberian pelatihan teknik sehingga menghasilkan lulusan yang siap bekerja di dunia industri. “Jumlah tenaga kerja kompeten yang dihasilkan dari pelatihan di satker-satker Kemenperin harus ditingkatkan lagi. Pasalnya, tenaga siap kerja yang diluluskan masih relatif kecil jika dibandingkan jumlah kebutuhan industri saat ini,” paparnya.

Sumber: Suara.com