Kejatuhan Harga Minyak Era 80-an Bakal Terulang?

Rimanews – Harga minyak mentah dunia kini merosot cukup tajam. Harga minyak Bernt LCOc1 bahkan diperdagangkan di bawah USD 88 per barel, atau merupakan yang terendah dalam 4 tahun terakhir. Akankah kejatuhan harga minyak yang pernah terjadi pada tahun 1980-an terulang? Kemerosotan harga minyak terjadi setelah negara-negara produsen minyak kunci Timur Tengah memberikan sinyal akan mempertahankan produksi meski hal itu berarti harga akan terus turun. Baca Juga DPR: tak ada Kemiripian uang Rupiah baru dengan Yuan Pelabuhan di bawah Pelindo I siap hadapi natal Ketika Sri Mulyani musnahkan sex toys Harga minyak Brent tercatat sudah turun 25% sejak Juni. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain karena melemahnya permintaan. Hal itu langsung memicu spekulasi kemungkinan Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) akan memangkas produksinya. Meski demikian, Arab Saudi telah menegaskan bahwa pihaknya bisa menerima harga minyak di kisaran USD 80-90 per barel. Sementara Kuwait tidak mungkin memangkas produksi untuk mendorong harga. “Ini menunjukkan pasar sedang mengalami kegugupan bahwa Arab Saudi sedang melakukan tekanan terhadap para produsen shale di AS. Pasar sedang mencari titik paling bawah dan kita sedang dalam proses mencarinya. Kita hanya perlu melihat apa yang akan dilakukan OPEC dan di mana ekonomi akan berjalan,” ujar Gene McGillian, analis dari Tradition Energy. Arab Saudi juga diperkirakan tidak akan mengulang kesalahannya di era 1980-an. Arab Saudi pernah gagal untuk menghentikan kejatuhan harga minyak dengan memangkas habis-habisan produksinya hingga tiga perempat pada periode 1980-an. Harga minyak anjlok dari USD 35 ke bawah USD 10 per barel ketika itu. Sebelum kejadian itu, harga minyak sempat melonjak tajam. Terutama pada tahun 1973, tepatnya ketika terjadi embargo minyak Arab dan revolusi Iran tahun 1979. Permintaan minyak dunia tersapu. Pada saat yang sama, terjadi penemuan minyak di ladang-ladang Laut Utara sehingga memicu produksi minyak non-OPEC. Dengan pasar dunia yang penuh dengan minyak, Arab Saudi pun menyusun strategi untuk mempertahankan harga minyak. Pada saat itu, harga minyak lebih banyak ditentukan oleh para eksportir ketimbang pasar berjangka. Arab Saudi kemudian memutuskan untuk memangkas produksinya dari lebih 10 juta barel per hari pada tahun 1980 menjadi hanya 2,5 juta barel per hari pada 1985-86. Produsen minyak lain gagal untuk mengikutinya baik dari anggota OPEC maupun kekuatan baru seperti Inggris dan Norwegia. Harga minyak pun jatuh. Arab Saudi harus menanggung defisit anggaran dan negara terlilit utang yang besar. Akhirnya, pada tahun 1985, Arab Saudi mulai memindahkan gigi. Produksi dipulihkan dan memangkas harga. Langkah itu memang langsung membuat kemerosotan di pasar, namun sekaligus membuka jalan untuk proses pemulihan secara bertahap. “Kesalahan terbesar ketika itu adalah mereka terus memangkas produksi untuk menahan harga dan tetap saja harga jatuh,” ujar analis dari Medley Global Advisors, Yasser Elguindi, seperti dilansir Reuters. Arab Saudi mestinya berjuang untuk memperluas pansa pasar dan membiarkan produsen dengan biaya lebih tinggi untuk mengunci dari dalam saat harga jatuh. Dan itulah yang kini dilakukan Arab Saudi. Dalam pertemuannya dengan para pelaku pasar di New York, Arab Saudi menegaskan pihaknya masih bisa mentoleransi penurunan harga minyak hingga mungkin USD 80 per barel untuk mempertahankan pangsa pasar. Arab Saudi tidak berusaha untuk menekan harga minyak, namun bersiap untuk membiarkan pasar menemukan dasarnya sendiri. Arab Saudi juga mentoleransi harga minyak rendah hingga OPEC berkomitmen untuk mengambil langkah tertentu “Pesan mereka (Arab Saudi) adalah jangan mengharapkan kami untuk menanggung tanggung jawab mengelola seluruh pasar minyak,” kata Sadad al-Husseuni, mantan petinggi BUMN minyak Arab Saudi. Kondisi tahun 2014 dan 1980-an hampir sama. Yang terjadi pada tahun 1980-an adalah anjloknya konsumsi minyak AS dan Eropa, dan di saat yang sama terjadi kenaikan produksi di Laut Utara. Sementara yang terjadi saat ini adalah melemahnya permintaan dari Asia dan pertumbuhan shale oil dari AS yang tidak terduga. Kondisi yang sama, dampaknya pun sama. Pasar minyak berpotensi mengalami kelebihan suplai. Bedanya, kali ini Arab Saudi dan OPEC kemungkinan besar tidak akan memangkas produksi. Upaya menahan kejatuhan harga minyak dengan memangkas produksi dinilai tidak akan efektif. Apalagi melihat fakta negara-negara OPEC sering tidak jujur soal produksi minyak. Arab Saudi memutuskan untuk fokus mempertahankan pendapatan jangka menengah untuk cadangan minyaknya yang mencapai 266 miliar barel ketimbang menahan kejatuhan harga dan mengorbankan pasarnya. “Dari perspektif ekonomi, lebih baik membiarkan harga turun,” ujar Philip K. Verleger, presiden konsultan PKVerleger LLC. Apakah langkah Arab Saudi yang berbeda kali ini mampu menahan kejatuhan harga minyak? Sudah pasti banyak faktor yang akan mempengaruhinya. Yang pasti, International Energy Agency (IEA) sudah memperkirakan bahwa harga minyak akan terus turun hingga tahun 2015. Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Harga Minyak Dunia , bisnis , Ekonomi

Sumber: RimaNews