Pemkot Jakut Kembali Tertibkan Kolong Tol Kalijodo

Jakarta – Sebanyak 105 jiwa yang menempati dan tinggal di kurang lebih 50 bangunan liar (bangli) di bawah kolong Tol Sedyatmo, Jalan Kepanduan I, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Kota Administrasi Jakarta Utara, kembali ditertibkan, pada Rabu (14/9) pagi hari Penertiban terhadap bangunan liar tersebut dilakukan oleh Pemkot Administrasi Jakarta Utara karena kebanyakan penduduk di lokasi tersebut berstatus sebagai pendatang baru, usai penertiban beberapa bulan yang lalu di daerah ilegal yang berada di depan lokalisasi Kalijodo di Jalan Kepanduan II itu. Camat Penjaringan Muhammad Andri mengatakan, penertiban yang dilakukan oleh anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan dibantu petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) itu dimaksudkan untuk menertibkan bangunan yang kembali berdiri di bawah kolong tol Kalijodo. “Bangunan-bangunan ini sudah pernah ditertibkan beberapa bulan lalu, namun kemarin setelah anggota PPSU melakukan pemantauan di wilayah tersebut, ternyata sudah kembali berdiri bangunan liar darurat yang kebanyakan terbuat dari triplek,” ujar Andri, Rabu (14/9). Menurut dia, kebanyakan warga di lokasi tersebut merupakan muka baru yang memanfaatkan lahan kosong yang sebelumnya sudah rata dengan tanah. Lokasi sudah ditinggalkan oleh warga yang sudah dipindah ke Rusunawa dan sebagian besar memilih pulang ke kampung halamannya masing-masing. “Mereka ini bukan warga yang sebelumnya sudah kita tertibkan, tapi mereka ada yang punya KTP DKI Jakarta. Makanya, kita akan telusuri, apakah ada oknum RT yang bermain dalam pembuatan KTP agar para pemohon KTP ini bisa mendapat rusun bila ditertibkan,” tambahnya. Dalam penertiban yang dilakukan tanpa memberikan Surat Peringatan (SP) itu, Andri mengaku langsung mengerahkan 75 anggota Satpol PP dan 40 anggota PPSU untuk merobohkan bangunan. Sebelumnya, warga sudah diminta untuk mengosongkan bangunannya sejak pagi hari tadi. Penertiban tidak menggunakan alat berat, karena jumlah bangunan yang tidak terlalu banyak dan kebanyakan berupa bangunan darurat. Salah satu warga, Kalimah (34) mengakui baru datang dengan suaminya dari Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk mengais rejeki di Jakarta. Dia akan berjualan nasi goreng menggunakan gerobak dorong dan tinggal bermukim di kolong tol. “Ini saja modal kita sudah habis untuk membeli gerobak dan peralatannya. Mana ada uang sisa lagi untuk cari rumah kontrakan yang sekarang harganya di atas Rp 500 ribu sebulan di sekitar sini,” kata Kalimah. Ia dan suaminya akan pindah terlebih dahulu ke rumah kerabatnya yang ada di wilayah Kelurahan Pejagalan, pascabangunan liar yang berdiri di bawah kolong tol sudah dibongkar oleh petugas. “Kita pasrah saja mas, toh kita memang sebenarnya tidak punya hak untuk tinggal di sini. Tapi ya, karena keterbatasan ekonomi, kami tinggal di sini sementara waktu sebelum memiliki uang untuk ngontrak,” tambahnya. Wakil Walikota Jakarta Utara Yani Purwoko mengaku, sudah meminta para bawahannya di wilayah-wilayah yang rentan dengan penyerobotan oleh warga untuk terus melakukan pemantauan di wilayah yang rentan diduduki pendatang baru. “Daerah yang menjadi atensi seperti arahan pak Gubernur adalah bantaran kali, pinggiran waduk, kolong tol, dan lahan-lahan kosong tidak bertuan,” kata Yani, singkat. Carlos Roy Fajarta/MUS Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu